tentang soppeng
Sejarah
sejarah soppeng diawali dengan munculnya "tomanurung" dalam istilah bahasa Indonesia dikenal sebagai orang yang muncul seketika. Saat itu, masyarakat Soppeng tengah dilanda kegetiran dan kemiskinan ditambah dengan penderitaan rakyat, maka berkumpullah toko-toko masyarakat "tudang sipulung" untuk membahas masalah ini, di tengah pembericaraan mereka, seekor kakak tua (dalam bahasa bugis dikenal sebagai "cakkelle"). Cakkelle ini terbang tepat di atas perkumpulan itu, sehingga para toko yang melihatnya merasa ada sesuatu yang lain dari cakkelle ini. Akhirnya, pimpinan tudang sipulung, menyuru si Jumet, salah seorang toko masyarakat bersama dengan rekannya yang lain untuk mengikuti cakkelle tersebut.
[sunting] Geografis
Soppeng terletak pada depresiasi sungai Walanae, yang terdiri dari daratan dan perbukitan, dengan luas daratan ± 700 km2 serta berada pada ketinggian rata-rata antara 100-200 m di atas permukaan laut.
Luas daerah perbukitan Soppeng kurang lebih 800 km2 dan berada pada ketinggian rata-rata 200 m di atas permukaan laut. Ibukota Kabupaten Soppeng adalah kota Watansoppeng yang berada pada ketinggian 120 m di atas permukaan laut.
Kabupaten Soppeng tidak memiliki wilayah pantai. Wilayah perairan hanya sebagian dari Danau Tempe. Gunung-gunung yang tertinggi yang ada di wilayah Kabupaten Soppeng menurut ketinggiannya:
- Gunung Nene Conang 1.463 m
- Gunung Sewo 860 m
- Gunung Lapancu 850 m
- Gunung Bulu Dua 800 m
- Gunung Paowengeng 760 m


Tidak ada komentar:
Posting Komentar